لا تغضب فلك الجنة
Oleh:Abu zakariyya rizky hidayat (Al indunisi)
sampai kapan kita mau terus marah atau menyalahkan orang lain? Yang terpenting dari proses ini adalah kita berubah, dari marah atau menyalahkan, Kecenderungan untuk marah atau menyalahkan orang lain saat mengalami kejadian buruk, bersumber pada kualitas pribadi setiap orang.
Mereka yang berkepribadian tangguh biasanya hanya marah atau menyalahkan orang lain dalam waktu singkat. Kemudian mereka terus maju, menerima dan berusaha mengatasi masalahnya. Sementara mereka yang kurang tangguh, cenderung terus menyalahkan pihak lain, lari dari masalah dan menganggap sebagai ancaman baginya.
“Orang yang berkepribadian tangguh akan melihat masalah sebagai akibat perbuatannya dan dapat dikendalikan olehnya. Atau, sebagai suatu komitmen yang membuatnya harus terlibat langsung mengatasi masalah. Masalah juga bisa dianggap sebagai tantangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik’’ tutur Fika.
Untuk dapat mencapai menjadi seseorang yang lebih baik tersebut, tentu ada rangkaian tahap yang perlu dilalui.
Mau Memaafkan. Singkirkan semua amarah dan maafkan orang yang menyakiti kita tanpa harus banyak menghakimi. Tindakan memaafkan bukanlah untuk membenarkan tindakan pihak yang menyakiti Anda.
Jangan lagi jatuh ke lubang yang sama. Anda boleh memaafkan orang tersebut, tapi selanjutnya perlu mengevaluasi diri mengapa masalah ini terjadi dan langkah apa saja yang bisa ditempuh agar situasi atau orang yang sama tidak menyulitkan Anda lagi. Cari tahu cara mencegahnya agar Anda tidak jatuh ke dalam masalah serupa di masa nanti.
Yang terpenting maafkan diri sendiri. Jika selama ini kita selalu keras mengkritik diri sendiri, luangkan waktu untuk mengambil napas dan berpikir. Terimalah bahwa Anda telah membuat kesalahan dan mungkin gagal, dan hal itu bisa saja dialami oleh orang lain. Katakan pada diri sendiri, meski saya telah melakukannya (apapun kesalahan itu), saya tetap menerima diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar