Minggu, 08 April 2018

Membangun sinergi antara orang tua dan guru

MEMBANGUN SINERGI ANTARA ORANG TUA DAN GURU

Oleh:Abuzakariyya rizky hidayat alindunisi.

DALAM dunia pendidikan kita, sejauh ini kerjasama antara guru dan orangtua belum berjalan secara efektif. Orangtua kurang intens berkomunikasi dengan guru, bahkan ketika diundang ke sekolah banyak orangtua yang merespon negatif. Anggapan bahwa undangan ke sekolah identik dengan penarikan iuran dan pembayaran masih melekat di sebagian wali murid. Kesenjangan psikologis antara orangtua dan guru harus direduksi karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Orangtua dan guru memiliki kedudukan strategis dalam pendidikan. Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anak, dan guru adalah penerus pendidikan di luar lingkungan keluarga. Orangtua yang perhatian terhadap anak dalam belajar di rumah akan memudahkan kerja guru di sekolah, begitu juga sebaliknya. Kejelasan dalam penyampaian materi di sekolah akan memudahkan bagi orangtua dalam membina anak di rumah.

Sayang, tidak semua orangtua dapat memiliki waktu lebih untuk menemani anaknya belajar. Kesibukan mencari nafkah dan ketidakmampuan mengikuti perubahan kurikulum pendidikan menjadi faktor kurangnya intensitas komunikasi belajar orangtua dan anak di rumah. Dan dampaknya jelas, anak-anak kurang optimal dalam merengkuh prestasi belajar.

Minimnya intensitas komunikasi belajar orangtua dan anak di rumah merupakan pertanda bahwa tradisi keilmuan belum menjadi sistem nilai yang dianut oleh banyak keluarga. Banyak orangtua yang terjebak pada kapitalisme dan pola hidup hedonis karena menjadi pemuja tayangan media televisi yang menyuguhkan berbagai acara yang kurang edukatif . Apa yang dilihatnya tertanam dalam alam bawah sadar orangtua sehingga mimicu pola hidup  workaholic yang justru melalaikan pentingnya komunikasi belajar dengan anaknya. Banyak orangtua yang bekerja siang dan malam, namun tidak diimbangi bagaimana membekali anak-anak dengan keilmuan yang luas. Orangtua kini lebih puas dapat menuruti permintaan anak dibanding mendidik dengan benar.

Kurangnya komunikasi orangtua dan anak dalam belajar tidak saja menjadikan prestasi belajar kurang optimal namun juga karakter yang tidak berkembang dengan baik. Terlebih sikap permisif orangtua terhadap anak kini semakin dominan dalam kehidupan karena pengaruh media dan gaya hidup masyarakat modern. Orangtua dirasa terlalu longgar dalam mendidik anak. Dampaknya jelas, kenakalan remaja menjadi semakin masif terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar