Oleh:Abu zakariyya rizky hidayat al indunisi.
Dalam perjalanan pulang dari Perang Dzatur Riqa,Nabi Shalallahu'Alaihi wa Salam memutuskan untuk bermalam di suatu tempat sambil beristirahat.
Beliau menawarkan bagi siapa saja yang bersedia untuk menjaga keselamatan pasukan malam itu.Maka berdirilah satu orang Anshar,yakni Abbad bin Bisyr dan seorang Muhajirin yakni
Ammar bin Yasir.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam menyuruh mereka berdua untuk berjaga di suatu tempat yang disebut pintu syi’b.Mereka berdua pun berangkat ke sana.
Sampai di pintu syi’b tersebut.
Abbad bertanya kepada Ammar,
“Pada bagian malam manakah engkau inginkan aku berjaga,awal malam atau akhir malam?”
“Biarlah aku berjaga di akhir malam,”
Kata Ammar,kemudian ia tidur.
Sambil berjaga,Abbad mengerjakan shalat malam.Ternyata malam itu ada seorang musyrik yang mengikuti mereka dengan diam-diam.Begitu melihat dua orang yang berjaga,dimana salah satunya sedang tidur,Lelaki musyrik itu melepas anak panahnya dan mengenai Abbad yang sedang shalat.
Walau terpanah,Abbad tidak menghentikan shalatnya.Ia mencabut panah tersebut dan terus shalat.Lelaki musyrik itu memanah lagi dan mengenainya,tetapi itupun belum menghentikan Abbad bin Bisyr dari shalatnya.
Pada kali ketiga ketika panah mengenainya,Abbad ruku dan sujud,kemudian membangunkan Ammar dan berkata,
“Bangun dan duduklah,aku telah terpanah dan tertahan di tempatku!”
Lelaki musyrik tersebut telah melompat keluar dari persembunyiannya untuk menyerang,tetapi begitu melihat dua orang yang bersiap dan mengetahui kehadirannya,ia segera melarikan diri.
Melihat keadaan Abbad yang berlumuran darah,
Ammar berteriak kaget,
“Subhanallah,mengapa engkau tidak membangunkan aku saat pertama ia memanahmu?”
“Saat itu aku sedang membaca satu surat,"
Kata Abbad menjelaskan,
“Aku tidak suka menghentikan membacanya kecuali telah tamat satu surat tersebut. Demi Allah,jika tidak karena khawatir melalaikan tugas Nabi untuk berjaga,aku lebih suka mati daripada menghentikan bacaan Qur’anku tersebut.”
Dalam suatu riwayat dijelaskan,saat itu Abbad sedang membaca surat
al Kahfi.
MasyaAllah,betapa indahnya ketika seseorang sedang merasakan manisnya iman,sampai-sampai sesuatu yang melukainya pun tak membuatnya goyah dalam mengerjakan solat,seperti kisah sahabat Nabi di atas